Rabu, 20 Januari 2010

Suara Hati


Ini adalah suara hati manusia, ketika manusia mengalami tekanan hidup, himpitan, jalan buntu, keputusasaan, kekecewaan, kekesalan, kejengkelan hati, keceriaan, kebanggaan dan banyak hal yang menjadi alasan untuk hati menunjukkan suaranya.
Seringkali kita jumpai bahwa luapan ini muncul dengan spontan tanpa ada yang memerintah ataupun yang mengada-ada, justru dengan gaya spontan inilah luapan hati sering menyimpang dari kebenaran yang hakiki. Tak elak jika manusia banyak yang mengalami hal-hal bodoh yang seharusnya tidak harus terjadi dalam hidupnya.
Berikut adalah petunjuk-petunjuk untuk mengenal hati kita sendiri, apakah hati kita itu berdiri di atas asas kegelapan atau hati kita berdiri di atas asas kebenaran.
Kegelapan memimpin kita kepada celaka yang ujung-ujungnya berimbas kepada diri kita sendiri, kebenaran memimpin kita kepada kemuliaan yang ujung-ujungnya juga berdampak kepada kita. Nah, apakah hati kita ? bagaimanakah hati kita ? siapakah hati kita ?

APAKAH HATI KITA ?
Secara sederhana hidup ini diperhadapkan dengan hanya dua hal yang berlawanan. Seperti contohnya adalah : benar dan salah, baik dan jahat, kiri dan kanan, atas dan bawah, cinta dan benci, dan sebagainya. Demikian juga dengan hati manusia, ada dua tipe yang dapat membedakan antara hati yang kotor dengan hati yang bersih. Untuk dapat mengetahui hal ini, maka gunakan parameter selanjutnya, yaitu bagaimanakah hati kita ?.

BAGAIMANAKAH HATI KITA ?
Pertanyaan mendasar ini dapat dijawab oleh kita, jika kita bisa membedakan apa yang baik dan apa yang jahat. Pada umumnya manusia bertindak dan berbicara, hal ini dapat menjadi tolok ukur hati manusia itu sendiri. Karena apa yang keluar dari mulut ataupun dari tindakan berasal dari dalam hati. Jika yang kita lakukan jahat berarti hati kita ada pada posisi hati yang kotor, tetapi jika kita melakukan apa yang baik, berarti hati kita pada posisi hati yang bersih.
Existensi hati manusia dapat dipertahankan selama dia dapat bertahan menghadapi berbagai tantangan. Entah hati yang kotor atau hati yang bersih semuanya dapat dijaga dan dipertahankan jika manusia lolos menghadapi ujian hidup dalam dirinya.

SIAPAKAH HATI KITA ?
Siapa hati kita ? pertanyaan ini akan membantu kita menemukan sosok pribadi yang berada dalam hati manusia. Ada dua pribadi yang dapat memasuki dimensi hati manusia, yaitu : Tuhan dan Setan.
Dalam pencerahan yang tertinggi manusia akan menemukan sosok yang berdiam dalam hatinya, entah itu Tuhan ataupun Setan. Syekh Siti Jenar dalam ajarannya memperkenalkan dirinya bahwa Alloh ada berdiam dalam dirinya, sehingga banyak persepsi yang beranggapan bahwa Syekh Siti Jenar menyamakan dirinya dengan Alloh. Ujung-ujungnya Syekh Siti Jenar mati di tangan wali sejawatnya.
Dunia masa kinipun banyak yang mengalami pencerahan yang salah, banyak orang yang menganggap dirinya adalah Nabi yang akan datang, atau mengaku sebagai reinkarnasi Isa Almasih. Memang benar bahwa Al Quran, Alkitab dan juga Taurat menuliskan bahwa Isa Almasih adalah Hakim yang Adil yang akan menghakimi dunia pada hari kiamat. Nah pencerahan yang mengaku-aku sebagai ini itu tidak dapat dijadikan dasar bahwa hal itu adalah kebenaran.
Kembali ke dasar pemahaman kita untuk dapat mengerti siapakah hati kita, benarkah TUHAN yang berdiam? inilah kuncinya yaitu kesucian hati. Berbahagialah orang yang suci hatinya karena ia akan melihat Tuhan. Dasar kesucian bukan berarti manusia harus jadi Kyai atau Pendeta atau Pertapa, tidak, bukan itu dasar kesucian. Yang benar adalah kesucian berarti berbicara dan berbuat kebenaran, itulah dasar kesucian.

Biarkan hati kita menyerukan suaranya, jika Setan yang ada dibalik semuanya tolak dan jangan bekerja sama. Tetapi jika Tuhan yang ada dibalik semuanya ikuti arah langkahnya, pasti saudara akan menemui Surga yang sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar